JENIS JENIS TANAH: Pengertian, Ciri-Ciri, Karakterisik & Gambarnya

Jenis Tanah

Jenis Jenis Tanah – Tanah adalah bagian paling atas bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Terdapat beragam jenis tanah yang berperan penting dalam kehidupan manusia dan juga makhluk hidup lainnya.

Kandungan air dan unsur hara dalam tanah memberi manfaat yang banyak untuk memenuhi kebutuhan semua makhluk.

Tanah terbentuk karena adanya pelapukan pada lapisan atas bumi yang pada umumnya berupa batuan. Pelapukan ini terjadi dalam kurun waktu yang lama dengan melibatkan bantuan mikroorganisme, perubahan suhu, dan air.

Hal ini menyebabkan banyak ragam tanah yang tersebar di bumi.

Kandungan dalam Tanah

Kandungan dalam Tanah
affandra.com

Secara umum, tanah terdiri dari kandungan makro dan mikro. Kedua kandungan ini memiliki beberapa zat yang memberikan fungsi khusus dalam tanah.

Kandungan Makro

Kandungan Makro Tanah
luciafebriarlita17.wordpress.com

Kandungan ini meliputi unsur-unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang besar.

1. Zat Organik

Zat ini sangat berperan untuk interaksi antara komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem tanah.

2. Nitrogen (N)

Merupakan unsur hara yang berasal dari atmosfer (sumber primer) dan aktivitas dalam tanah (sumber sekunder). Nitrogen berfungsi sebagai pembentuk protein.

Kekurangan nitrogen akan mengakibatkan warna daun menguning dan mudah rontok, serta menyebabkan tumbuhan menjadi kerdil. Kelebihan nitrogen akan menyebabkan pertumbuhan daun akan semakin cepat sehingga menimbulkan lembap dan pertumbuhan jamur.

3. Fosfor (P)

Zat ini berasal dari bahan organik, pupuk buatan, atau mineral dalam tanah. Kekurangan fosfor akan memicu pertumbuhan lambat dan menjadi kerdil. Biasanya, gejala diawali dengan warna daun yang keunguan dan kelabu serta rontok.

Jika kelebihan fosfor, penyerapan unsur mikro seperti besi, tembaga, dan seng akan terganggu. Berujung dengan terganggunya proses metabolisme beberapa enzim dalam tumbuhan.

4. Kalium (K)

Unsur ini terbentuk karena adanya pelapukan batuan dan mineral yang mengandung kalium, lalu terurai menjadi partikel lebih kecil dan bergabung dengan zat lainnya dalam tanah.

Kekurangan kalium akan menyebabkan daun menjadi kering dengan gejala bercak hangus dan rentan terhadap penyakit. Namun, apabila kelebihan, akan menghambat penyerapan kalsium dan magnesium sehingga pertumbuhan tanaman akan terganggu.

5. Kalsium (Ca)

Termasuk dalam unsur mineral esensial sekunder yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman, di antaranya untuk pembentukan akar dan biji, menguatkan batang pohon, dan membantu aktivitas enzim dalam tanaman.

Kelebihan zat kalsium tidak memberi efek secara langsung pada tanaman, tetapi akan memengaruhi pH tanah. Namun, jika kekurangan, akan menyebabkan daun menjadi kecil dan keriting hingga gugur. Pertumbuhan pohon pun akan terhambat.

6. Magnesium (Mg)

Merupakan zat yang penting sekali dalam proses pembentukan klorofil dan fotosintesis. Kekurangan magnesium menyebabkan pembentukan sel dalam daun tidak maksimal.

Sehingga, muncul bercak kuning di permukaan daun dan menyebabkan daun jadi lemah serta mudah terkena penyakit.

7. Belerang (S)

Zat ini memiliki peran dalam proses pembentukan zat hijau daun, proses pembentukan zat gula, serta menambah kandungan protein dan vitamin.

Kandungan Mikro

Kandungan Mikro Tanah
paktanidigital.com

Kandungan ini merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang kecil.

1. Besi (Fe)

Memiliki fungsi sebagai penyusun klorofil, protein, dan enzim,serta dan berperan dalam sistem metabolisme tumbuhan. Kelebihan zat besi dapat menyebabkan nekrosis yang ditandai dengan munculnya bintik hitam pada permukaan daun.
Sedangkan, kekurangan zat ini akan menyebabkan daun kekurangan klorofil sehingga daunnya berwarna putih. Juga, akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada akar.

2. Mangan (Mn)

Umumnya, mangan terdapat dalam batuan primer yang mengalami pelapukan. Berperan dalam proses sintesis klorofil sebagai koenzim, aktivator enzim respirasi, serta dalam metabolisme nitrogen dan fotosintesis.
Kekurangan mangan dapat dilihat dari gejala munculnya warna kuning di antara tulang daun.

3. Seng (Zn)

Zat ini berperan dalam pembentukan protein, menjadi katalisator dalam pembentukan klorofil dan dalam proses fotosintesis, berperan dalam proses respirasi, serta menjadi aktivator beberapa enzim.

Kekurangan zat ini akan menghambat pertumbuhan tanaman, daun jadi mengerut atau menggulung, dan buah mudah gugur.

4. Tembaga (Cu)

Komposisi tembaga dalam tanah harus benar-benar diperhatikan, karena jika kekurangan akan mengganggu pertumbuhan bunga serta warna daun menjadi kuning dan lemah.
Sedangkan, jika kelebihan, akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil, pembentukan akar dan batang juga terhambat.

5. Molibden (Mo)

Molibden merupakan zat yang memiliki fungsi untuk membawa elektron agar dapat mengubah nitrat menjadi enzim. Kekurangan zat ini akan menyebabkan timbulnya klorosis pada daun tua dan akan mejalar ke daun muda.

6. Boron (B)

Boron merupakan zat yang berperan dalam pembentukan, pembelahan, diferensiasi, dan pembagian tugas sel. Jumlah boron dalam tanah sangat terbatas karena mudah sekali tercuci.
Kekurangan boron akan menyebabkan daun berwarna gelap, tebal, dan mengerut. Sedangkan, jika kelebihan, ujung daun akan menguning dan mengalami nekrosis.

7. Klorin (Cl)

Klorin  merupakan zat yang diserap dalam bentuk ion oleh akar tanaman dan dapat diserap juga saat berupa gas atau larutan oleh bagian atas tanaman.
Kekurangan klorin dapat berdampak pada warna, ukuran, dan pertumbuhan daun. Terutama pada jenis sayuran, tumbuhan akan terlihat tidak sehat.

8. Kobalt (Co)

Zat ini memiliki peran penting dalam fiksasi nitrogen. Kelebihan zat ini akan menyebabkan proses asimilasi di daun akan terhambat. Namun, jika kekurangan, akan mengurangi serta menghambat fiksasi nitrogen itu sendiri.

9. Silikon (Si)

Silicon berperan pada proses fotosintesis untuk meningkatkan hasil dan menginduksi ketahanan terhadap hama. Sehingga, jika kekurangan silikon, tanaman akan mudah terkena serangan hama penyakit.

10. Nikel (Ni)

Nikel diperlukan untuk menyerap zat besi dan berpengaruh terhadap reproduksi tanaman. Kekurangan zat ini akan menyebabkan kegagalan pada tanaman untuk menghasilkan benih yang berkualitas.

Komponen yang terkandung dalam tanah ini berbeda-beda, sehingga setiap daerah tentu memilki ciri khas yang berbeda. Semua komponen itu dibutuhkan untuk tanaman sebagai makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya di tanah. 

Jenis-Jenis Tanah dan Manfaatnya

Jenis Tanah dan Manfaatnya
infokekinian.com

Jenis tanah yang ada di belahan bumi akan bergantung terhadap lingkungan yang ada di daerah tersebut.

1. Tanah Podsolik Merah Kuning (PMK)

Tanah podsolik merah kuning merupakan tanah yang terbentuk karena intensitas hujan yang tinggi dan suhu yang rendah. Memiliki warna merah dan kuning yang disebabkan oleh adanya oksidasi besi dan alumunium.

Termasuk ke dalam lapisan tanah ultisol, yaitu bagian tanah yang sudah mengalami penimbunan liat pada saat iklim tropis dan subtropis.

Tanah PMK memiliki sifat yang mudah basah dan mengalami pencucian oleh air hujan, teksturnya berupa lempung dan berpasir, memiliki pH yang rendah, serta mengandung unsur alumunium dan besi yang tinggi.

Manfaatnya bagi manusia adalah dapat difungsikan sebagai lahan pertanian, bahan pembuat tanggul karena cepat mengeras, menjadi tempat penyerapan air yang baik, serta sebagai bahan produksi genting, keramik ,dan barang kerajinan lainnya.

2. Tanah Latosol

Tanah latosol adalah bagian permukaan tanah yang mengandung solum horison yang terbentuk karena adanya pelapukan batuan sedimen dan metamorf. Lapisan solum tanah memiliki ketebalan sekitar 130–500 cm.

Karakteristik tanah ini mulai dari berwarna merah, cokelat, hingga kekuningan. Teksturnya liat dengan struktur yang remah dan konsistensi gembur.

Tanah latosol memiliki pH asam hingga agak asam, unsur hara berkadar sedang hingga tinggi, serta memiliki daya tanah air cukup baik dan tahan terhadap erosi.

Berdasarkan karakteristik di atas, maka tanah latosol banyak digunakan sebagai media tanam untuk pohon tebu, cokelat, tembakau, vanili, dan pala.

3. Tanah Aluvial

Tanah Aluvial
gurugeografi.id

Tanah aluvial adalah tanah endapan yang terbentuk dari lumpur dan pasir halus sebagai akibat proses erosi tanah. Memiliki ciri-ciri warna kelabu, struktur tanah aluvial sedikit terurai sehingga rentan terhadap erosi.

Tanah jenis ini sedikit mengandung unsur zat hara dan sering ditemui di daerah dataran rendah, muara sungai, rawa, dan lembah. Tanah aluvial memiliki kesuburan yang bergantung terhadap bahan induk dan iklim.

Teksturnya lembut sehingga mudah sekali digarap, tanah aluvial cocok untuk lahan pertanian palawija dan tembakau.

Namun, lahan tanah aluvial ini harus dikelola dengan baik, karena kandungan pH yang rendah dan kandungan aluminum yang tinggi akan menyebabkan keracunan pada tumbuhan.

Oleh sebab itu, perlu diberi pupuk P, kapur pertanian, dan pupuk kandang untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah.

4. Tanah Mediteran

Tanah mediteran sering juga disebut dengan tanah kapur. Terbentuk karena adanya pelapukan pada bebatuan kapur. Tanah ini sedikit sekali mengandung unsur hara, bahkan ada yang tidak mengandung sama sekali.

Memiliki karakteristik yang sangat mudah dilewati air, tanah mediteran mengandung kalsium dan magnesium yang tinggi. Karena miskin unsur hara, tanah ini hanya cocok ditanami untuk jenis tanaman keras seperti pohon jati.

Manfaat lain dari tanah kapur adalah sebagai penyeimbang pada tanah yang kandungan asamnya tinggi, yaitu dengan cara mencampurnya pada lahan yang akan digunakan.

Selain itu, magnesium dan kalsium yang terkandung juga akan memberi nutrisi pada bagian tanah lainnya.

5. Tanah Andosol

Tanah Andosol
staticflickr.com

Tanah andosol berasal dari pelapukan material gunung berapi yang melibatkan proses kimia. Pada umumnya, tanah ini berwarna hitam dan banyak terdapat di seluruh belahan dunia.

Di Indonesia, tanah andosol banyak mengandung alumunium karena sebagian besar batuan gunung di Indonesia bersifat masam (liparit).

Selain berwarna hitam atau cokelat keabuan, karakter tanah ini adalah gembur, kadar bahan organiknya tinggi, dan terasa licin saat dipegang. Tanah ini cocok untuk segala jenis tanaman karena kaya dengan mineral, unsur hara, dan air.

Tanah andosol dengan bentuk gelombang lebih pas jika ditanami dengan sayuran, palawija, dan hortikultura.

Sedangkan, untuk lahan yang memiliki kemiringan, cocok jika ditanami dengan tanaman perkebunan, seperti teh, kopi, kayu manis, dan kina. Dan, dapat juga dijadikan sebagai tempat agrowisata pada setiap perkebunannya.

6. Tanah Podsol

Tanah podsol terbentuk karena adanya pelapukan yang dipengaruhi oleh curah hujan dan suhu udara. Biasanya, tanah podsol terdapat di daerah yang memiliki suhu udara rendah dan curah hujan yang tinggi. Proses terjadinya disebut dengan podzolisasi.

Karakteristik tanah ini adalah berwarna pucat (abu-abu keputihan), mengandung pasir kuarsa dan tingkat keasaman yang tinggi, sangat peka terhadap erosi, profilnya tidak berkembang, memiliki tekstur lempung hingga berpasir, dan mempunyai sifat mudah basah.

Sifat mudah basah menyebabkan tanah podsol akan menjadi subur jika terkena air. Sehingga, tanah ini cocok jika ditanami dengan palawija dan produktivitas hutan primer.

7. Tanah Grumusol

Tanah Grumusol
berambaang.blogspot.com

Tanah grumusol merupakan tanah yang terbentuk karena pelapukan batuan induk kapur dan tuffa vulkanik yang bersifat basa. Lapisan tanah ini cukup tebal dan keras karena perkembangan konkresi kapur dengan unsur kapur.

Tekstur tanah ini, yaitu sedikit keras, mudah dibentuk, dan hancur. Pada saat musim kemarau, volumenya dapat berkembang lebih besar dan normal kembali saat musim hujan. Ini disababkan karena koefisensi pemuaiannya tinggi.

Memiliki warna kelabu hingga kehitaman, kandungan organik tanah grumusol tergolong rendah dan memiliki pH netral hingga alkali.

Lahan tanah grumusol dapat digunakan untuk pertanian. Akan tetapi, harus diperhatikan sistem perairannya. Jika area pertanian kekeringan, tanah akan pecah, kering, dan menyebabkan akar tanaman rusak.

8. Tanah Regosol

Tanah regosol adalah tanah yang berasal dari peristiwa vulkanisme,\ sebagai hasil erupsi gunung berapi. Sehingga, tanah ini pasti akan kaya sekali dengan unsur hara. Bentuk wilayahnya berombak hingga membentuk gunung.

Karakteristiknya adalah memiliki variasi warna merah, kuning, dan cokelat. Strukturnya berupa butiran kasar, belum berupa lapisan horisontal, rentan pada erosi, gembur, dan mengandung air yang tinggi.

Tanah regosol sangat baik sekali untuk  pertumbuhan tanaman, seperti palawija, padi, kelapa, tembakau, dan tebu. Ini disebabkan oleh unsur hara yang tinggi dan menyebabkan tanahnya menjadi subur.

9. Tanah Renzina

Tanah renzina dapat juga disebut dengan tanah mollisol. Tanah ini terbentuk karena adanya pelapukan pada batuan kapur, basalt, dan granit. Biasanya, pembentukan tanah ini terjadi di daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi.

Tanah ini berwarna cokelat, merah, dan hitam. Memiliki karakteristik kering, tanah renzina mengandung bahan organik, kadar lempungnya tinggi, tekstur halus, serta mampu menahan dan mengikat air.

Tanah renzina banyak digunakan sebagai lahan untuk menanam tanaman semusim, seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah.

10. Tanah Litosol

Tanah Litosol
gurugeografi.id

Tanah litosol terbentuk dari pelapukan batuan beku yang berasal dari proses meletusnya gunung berapi serta dari pelapukan kimia dan fisika yang belum sempurna pada batuan sedimen.

Tanah ini merupakan lapisan tanah yang muda dan sering dijumpai di daerah yang memiliki kecuraman tinggi. Tekstur tanahnya beragam, mulai dari lembut, berpasir, hingga kasar atau berbatu.

Tanah litosol mengandung sedikit sekali unsur hara, sehingga sulit ditanami dengan jenis palawija atau tanaman produktif lainnya. Tanaman yang dapat tumbuh subur di tanah ini adalah rumput dan jagung. Bahkan pada gunung tertentu, bunga edelweis dapat tumbuh.

11. Tanah Hidromorf Kelabu

Tanah ini terbentuk karena adanya pelapukan pada batuan tufa vulkanik asam dan batu pasir. Proses terjadinya dipengaruhi oleh faktor topografi, yaitu pada daerah dataran rendah atau cekungan sehingga sering tergenang air. Warnanya kelabu, cokelat, dan hitam.

Tanah ini dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, tambak, dan pemukiman.

12. Tanah Planosol

Tanah planosol terjadi sebagai hasil dari proses pelapukan endapan vulkanik pada dataran rendah. Banyak ditemukan pada daerah dengan ketinggian 0 hingga 50 meter di atas permukaan laut, tanah planosol memiliki curah hujan kurang dari 2.000 mm/tahun.

Tanah ini berwarna terang serta bertekstur mulai halus hingga kasar. Tanah planosol dapat dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan gandum dan bit.

13. Glei Humus

Tanah ini terbentuk dari pelapukan daun atau batang pohon yang terdapat di hutan hujan tropis. Sebagai hasil pembusukan bahan organik, tanah ini memiliki tingkat kesuburan yang tinggi.

Glei humus berwarna kehitaman, mudah basah, dan dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

14. Tanah Gambut (Organosol)

Tanah Gambut
harianrakyataceh.com

Tanah ini terbentuk karena proses pembusukan bahan organik. Tanah gambut merupakan tanah yang sering ditemui di daerah rawa atau tempat yang selalu tergenang air.

Kondisi ini menyebabkan karakter tanah memiliki unsur hara yang rendah, tidak terlalu subur jika dibandingkan dengan tanah humus, dan memiliki sifat asam yang tinggi. Tanah ini banyak dimanfaatkan untuk menanam pohon kelapa, palawija, dan karet.

15. Tanah Entisol

Tanah entisol merupakan tanah yang masih muda, terbentuk sebagai hasil dari proses pengendapan material baru atau karena pengendapan yang terlalu cepat daripada laju perkembangan tanah.

Oleh karena itu, tanah entisol banyak ditemui di daerah lereng curam, dataran banjir, dan dunes. Tanah entisol memiliki tekstur kasar dengan kadar organik dan nitrogen yang rendah.

Tanah mudah teroksidasi dengan udara serta memiliki kelembapan dan pH yang cenderung tinggi. Inilah yang menjadi sebab tanah entisol kurang baik untuk dijadikan media tanam kecuali dengan pengelolaan yang maksimal.

Tanah yang memiliki banyak ragam ini memilki karakter dan manfaat yang berbeda-beda untuk media tumbuhnya tanaman. Semua itu tentu dapat memberi manfaat yang besar untuk kehidupan manusia.


Menjaga kondisi tanah sama dengan mempertahankan keberlangsungan hidup manusia. Semoga ulasan jenis-jenis tanah ini dapat memberi manfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *