√ Biografi Ki Hajar Dewantara Singkat : Biodata, Sejarah & Riwayat Hidup ..

Biografi Ki Hajar Dewantara – Dunia pendidikan tentu sudah tidak asing dengan tokoh ini, pahlawan yang hari kelahirannya ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional. Dia adalah Ki Hajar Dewantara, pahlawan nasional yang menjadi pelopor berkembangnya pendidikan di Indonesia.

Sebenarnya, Ki Hajar Dewantara tidak hanya memberikan jasa pada dunia pendidikan. Namun, beliau juga turut memiliki andil dalam merebut kemerdekaan dari tangan Belanda.

Hasil tulisannya banyak yang menjadi alat perang yang diluncurkan untuk melawan Belanda saat itu.

Kelahiran dan Keluarga Ki Hajar Dewantara

biografi ki hajar dewantara
salamyogyakarta.com

Saat lahir, Ki Hajar Dewantara diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1882, ayahnya bernama Pangeran Suryaningrat dan ibunya bernama Raden Ayu Sandiah. Keduanya merupakan keluarga bangsawan keraton Yogya.

Keluarga besar Raden Mas Soewardi masuk ke dalam garis keturunan dari Paku Alam III. Ini membuat kehidupannya yang berada dalam lingkungan ningrat memberikan banyak kenyamanan dan kemudahan. Salah satunya adalah untuk mendapatkan pendidikan.

Sewaktu kecil, Raden Soewardi masuk ke Sekolah Dasar (ELS) untuk anak-anak Eropa atau Belanda dan juga kaum bangsawan. Saat itu mulai timbul keprihatinan terhadap anak lain yang seusianya. Mereka tidak dapat mengenyam pendidikan yang sama dengan dirinya karena perbedaan status.

Kehidupan Masa Kecil Kihajar Dewantara

masa kecil ki hajar dewantara
adira.co.id

Hidup di lingkungan keraton, juga memberikan banyak dampak positif terhadap kepribadian Raden Soewardi. Para sesepuhnya termasuk ke dalam orang yang berpendidikan dan sangat mencintai adat istiadat serta bangsa Indonesia.

Ini menjadi bekal bagi Raden Soewardi yang membuatnya menjadi pribadi yang juga kritis, santun, dan memiliki rasa nasionalis yang tinggi. Sejak kecil beliau telah menyaksikan para sesepuhnya melakukan perlawanan terhadap bangsa Belanda yang menindas rakyatnya.

Keadaan tersebut kemudian menjadi tekad dalam Soewardi kecil jika kelak dewasa akan membuat kehidupan orang Indonesia menjadi lebih baik. Terutama untuk anak-anak mendapatkan pendidikan yang setara tanpa memandang status.

Kehidupan Remaja Ki Hajar Dewantara

Pondok Pesantrependidikan remaja ki hajar dewantaran Darunnajah
Pondok Pesantren Darunnajah

Selain mendapat pendidikan dalam keraton, dia juga dimasukkan ke sekolah umum ELS. Selama tujuh tahun dia bergaul dengan teman-temannya dari berbagai etnis seperti timur asing, peranakan Eropa, bangsawan pribumi, atau Tionghoa.

Menginjak usia remaja, Raden Soewardi semakin menunjukkan kecerdasan dan sikap sosial yang tinggi. Namun, saat itu dia tidak bisa berbuat banyak selain bertekad untuk belajar sebaik mungkin, hingga bercita-cita suatu saat dapat membuat perubahan untuk rakyat.

Sejak remaja beliau sudah terbiasa mengerjakan perintah agama. Dia pernah belajar di sebuah pesantren di daerah Kalasan, Prambanan. Di sana dia mendapat julukan ‘Jemblung Trunogati’ yang artinya anak berbadan kecil dengan perut buncit, tetapi pengetahuannya luas.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara

pendidikan ki hajar dewantara
LIAS – SAS Indonesië

Setelah menyelesaikan pendidikannya di ELS, Raden Soewardi melanjutkan ke Kweeksschool di Yogyakarta. Kweeksschool merupakan sekolah guru, sebuah profesi yang sangat dia cita-citakan. Karena kepandaiannya, dia pun mendapat beasiswa.

Baru berjalan beberapa bulan saja, Raden Soewardi kembali mendapat tawaran untuk masuk ke STOVIA. Sekolah kedokteran terbaik yang memberikan banyak peluang baginya untuk mencapai cita-cita, y,aitu membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Dia pun menerima tawaran itu dan segera berangkat ke Batavia. Namun di tengah masa pendidikannya, Soewardi semakin tidak dapat menahan keinginannya untuk berjuang membela rakyat. Dia berhenti dan melanjutkan kegiatannya dengan menjadi wartawan.

Karir dan Perjalanan Hidup Ki Hajar Dewantara

smpmuhammadiyah3depok.blogspot.com

1. Kehidupan Pribadi Ki Hajar Dewantara

Raden Soewardi muda juga memiliki kisah cinta yang sangat menarik untuk diketahui banyak orang. Kehidupannya sebagai seorang ningrat, juga mendapatkan jodoh yang berasal dari kalangan yang sama.

Dia memiliki istri yang bernama Nyi Soetartinah. Dia merupakan putri dari Pangeran Sosroningrat, masih keturunan Paku Alam III dan Pangeran Diponegoro. Karena berasal dalam lingkungan keraton, maka Soetartinah juga memiliki wawasan yang cukup luas.

Mereka menikah pada tanggal 4 November 1907. Selama pernikahannya, Soetartinah selalu setia mendampingi suaminya dalam keadaan suka dan duka. Termasuk ketika Raden Soewardi harus diasingkan ke negeri Belanda.

Soetarti juga aktif dalam pergerakan perjuangan untuk kaum wanita. Dia mendirikan sebuah organisasi kewanitaan dan menyelenggarakan kongres perempuan pertama. Inti dari kegiatannya ini adalah ingin menaikkan harkat dan martabat kaum wanita Indonesia.

2. Bekerja sebagai wartawan

Setelah meninggalkan pendidikannya, Raden Soewardi semakin aktif dalam dunia jurnalistik. Ini merupakan karier pertamanya yang membuka jalan dimulainya perjuangan. Dia bertekad ingin melawan penjajahan Belanda dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Dia aktif menulis di beberapa media seperti De Expres, Midden Java, Tjahaja Timoer, Sedyoutomo, Kaoem Moeda, Oetoesan Hindia Belanda, dan Poesara, tempat dia mencurahkan isi pikirannya.

Ide-ide tulisannya berdasarkan fakta nyata dari pengamatannya dalam masyarakat. Tulisan yang tajam, kritis, dan cenderung provokatif selalu membahas tentang ketidakadilan Belanda terhadap bangsa Indonesia.

Dia memiliki cita-cita, agar melalui tulisannya, semangat rakyat Indonesia muncul dan membuahkan sikap berani untuk menunjukkan perlawanan. Dan memang terbukti, banyak tulisannya yang membuka pola pikir masyarakat, terutama pada golongan muda.

3. Karier politik KI Hajar Dewantara

Selain aktif menjadi wartawan, Raden Soewardi juga aktif menjadi anggota organisasi sosial dan politik. Dalam organisasi yang diikutinya itu, dia bertemu dengan Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkusumo.

Ketiganya mendirikan sebuah organisasi yang dinamakan Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1913. Indische Partij merupakan organisasi pertama yang didirikan di Indonesia. Organisasi ini mempunyai misi untuk melepaskan Indonesia dari tangan Belanda.

Ketiga orang ini pun akhirnya dikenal dengan nama Tiga Serangkai. Tiga tokoh pemuda cerdas, kritis, dan berani. Sikapnya ini berhasil menyulut semangat para pemuda Indonesia saat itu. Bahkan, Belanda merasa khawatir dengan keberadaan mereka.

Untuk mendapatkan status hukum yang jelas, Tiga Serangkai mengajukan perizinan Indiche Partij kepada Pemerintahan Kolonial Belanda. Namun, sayang Belanda menolak memberikan izin karena khawatir akan membuat gejolak perlawanan di rakyat Indonesia.

4. Perubahan Nama Ki Hajar Dewantara

Terlahir dalam lingkungan keraton tentu membuat dirinya memiliki gelar kebangsawanan. Namun sejujurnya, ini semua membuat dirinya tidak nyaman. Dia mearsa gelar yang dimilikinya semakin membuat jarak yang besar dengan rakyat lain.

Akhirnya, pada saat usia 40 tahun, dia mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Tak hanya itu, istrinya juga mengubah nama menjadi Nyi Hajar Dewantara. Nama itu kemudian dikenal dan diabadikan hingga saat ini.

Peristiwa Sejarah Indonesia yang Berhubungan Dengan Ki Hajar Dewantara

tulisan ki hajar dewantara
Artikel Muza

1. Tulisan kontroversial Ki Hajar Dewantara

Penolakan izin Belanda  terhadap organisasi yang didirikannya, Tiga Serangkai pun membuat sebuah komite yang diberi nama Boemipoetra, yaitu pada bulan November 1913. Komite ini bertujuan untuk memberikan kritik pada Belanda karena sikapnya yang tidak adil.

Saat itu, Ki Hajar Dewantara membuat sebuat tulisan yang berisi sindiran dan protes keras yang dimuat di surat kabar De Expres. Media cetak ini merupakan milik sahabatnya, Douwes Dekker.

Tulisan ini bermula dari sebuah perayaan kebebasan Pemerintah kolonial Belanda dari tangan Prancis. Ki Hajar Dewantara mengungkapkan rasa kecewa, marah, dan kebenciannya melalui kritik yang tajam sehingga menyulut kemarahan Belanda.

Dua tulisan dibuatnya, yaitu Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).

Pemerintah Belanda merasa geram karena selain bentuk penghinaan, tulisan itu juga dianggap akan menghasut rakyat. Akhirnya, melalui sebuah persidangan di Bandung, Ki Hajar Dewantara diputuskan untuk dibuang ke Pulau Bangka.

Hasil putusan ini membuat Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangoenkusumo mengajukan pembelaan. Namun, lagi-lagi mereka malah mendapat perlakuan yang tidak nyaman dan malah digugat balik. Sehingga, mereka diberi hukuman pengasingan di daerah berbeda.

Namun, Tiga Serangkai mengajukan kembali protes dan meminta untuk diasingkan di Belanda. Akhirnya Pemerintah Belanda mengabulkan lalu mengasingkan mereka selama 6 tahun di Belanda.

Tiga Serangkai memilih pengasingan di Belanda bukan tanpa alasan. Para cendikiawan ini memiliki pikiran panjang dengan memanfaatkan masa pengasingan untuk belajar lebih banyak lagi.

Mereka bertekad dengan ilmu yang didapat akan membuat perubahan di Indonesia.

Selama pengasingan, istri Ki Hajar Dewantara ikut serta. Dialah yang memberi dukungan dengan mengurusi semua kebutuhan Tiga Serangkai. Bahkan, dia juga turut berjuang untuk mencari tambahan penghasilan dengan menjadi tenaga pengajar.

2. Mendirikan Taman Siswa

ki hajar dewantara mendirikan tamana siswa
Wikipedia.com

Sepulang dari negeri Belanda, Ki Hajar Dewantara semakin fokus pada dunia pendidikan. Dia ingin sekali mewujudkan cita-citanya sejak kecil, yaitu mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sehingga rakyat Indonesia dapat memiliki pola pikir dan hidup yang lebih baik lagi.

Pada tanggal 3 Juli 1922, beliau mendirikan National Ondewijs Instituut Taman Siswa. Sebuah sekolah yang mengusung semangat nasioalisme, didirikan bersama beberapa orang teman terdekatnya. Sekolah ini kemudian dikenal dengan Taman Siswa.

Sekolah yang pertama kali didirikan adalah Taman Indria atau taman kanak-kanak. Lalu disusul dengan kursus guru, Taman Muda atau Sekolah Dasar (SD), dan Taman Dewasa atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang merangkap sebagai taman guru.

Selanjutnya, didirikan pula Taman Madya atau Sekolah Menengah Atas (SMA), Taman Guru atau Sekolah Pendidikan Guru (SPG), prasarjana, dan sarjana muda. Dalam kurun waktu 8 tahun, Perguruan Taman Siswa telah memiliki 52 tempat.

Sekolah ini memberikan landasan kebangsaan untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Pendidikan yang diberikan dengan cara disiplin menuntut pelajarnya mau bekerja keras dan bersungguh-sungguh ketika belajar.

Belanda merasa terancam dengan hadirnya Taman Siswa. Mereka menganggap kalau pergerakan ini akan membangkitkan generasi muda yang bisa melawan pemerintahannya. Mereka pun berupaya untuk menutup Taman Siswa.

Akhirnya pada bulan Oktober, Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar terhadap Taman Siswa. Mereka memeritahkan agar sekolah ini ditutup. Namun, jelas mendapatkan perlawanan keras dari Ki Hajar Dewantara.

Usahanya membuahkan hasil. Taman Siswa tidak ditutup dan tetap menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya. Bahkan, semakin banyak pemuda yang masuk dan belajar, serta berhasil mengobarkan semangat perjuangan terhadap penindasan yang dilakukan Belanda.

3. Ki Hajar Dewantara dan Pemerintahan Jepang

Pada saat Jepang datang ke Indonesia, Ki Hajar Dewantara pun menjadi salah satu tokoh nasional yang didekati oleh mereka. Jepang menganggap bahwa Ki Hajar Dewantara memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan saat itu.

Ki Hajar Dewantara terlibat dalam Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943. Dia bersama Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur menjadi pimpinan dalam organisasi bentukan Jepang ini.

4. Masa kemerdekaan Republik Indonesia

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaanya, Ki Hajar Dewantara masuk ke dalam kabinet pemerintahan yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta. Beliau diangkat menjadi Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan atau PP&K.

Perjuangan bangsa Indonesia masih belum berakhir walaupun telah memproklamasikan kemerdekaan. Belanda tetap saja merongrong dengan melakukan penyerangan kepada bangsa Indonesia. Sehingga, masa ini dapat juga dikatakan sebagai masa revolusi fisik.

Semua program Ki Hajar Dewantara tidak banyak dilakukan, karena kondisi negara yang tidak stabil. Namun, perannya cukup terasa pada penanaman dasar nasionalis terhadap sistem pendidikan saat itu.

Akhir Hayat Ki Hajar Dewantara

batu nisan ki hajar dewantara
Wikipedia.com

Pada tanggal 28 April 1959, Ki Hajar Dewantara meninggal dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta. Setelah sebelumnya disemayamkan di Pendapa Agung Taman Siswa Yogyakarta. Beliau meninggal karena penyakit yang dideritanya cukup lama.

Ribuan pelayat datang mengiringi kepergian pahlawan pendidikan ini. Mereka datang dari berbagai golongan.

Sikapnya yang religius, jujur, adil, berani, etis, estetis, tekun, kreatif, nasionalis, patriotis, mandiri, dan sederhana memberikan kesan mendalam untuk semua orang.

Penghargaan dari Pemerintah

monumen ki hajar dewantara
Wikipedia

Jasa-jasa beliau sangat besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Sebuah dobrakan luar biasa yang dapat mengubah paradigma tentang pendidikan yang kaku dan sulit dilakukan oleh semua rakyat.

Karena jasa-jasanya itu, pada tahun 1957 beliau dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Ditambah lagi dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959.

Bahkan untuk mengenang jasanya, pada tanggal 26 April 1959 pemerintah mengabadikan fotonya pada mata uang kertas pecahan Rp20.000,00. Lalu, menetapkan hari kelahiran beliau, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Penghormatan lain yang diberikan, di antaranya anugerah Bintang Maha Putera Kelas 1 pada tanggal 17 Agustus 1960, Tanda Penghormatan Satya Lencana Kemerdekaan pada tanggal 20 Mei 1961, dan anugerah Rumah Pahlawan pada tanggal 27 November 1961.

Jasa jasa Ki Hajar Dewantara

logo tut wuri handayani
Pinterest.com

1. Semboyan Tut Wuri Handayani

Dunia pendidikan tak dapat dipisahkan dari semboyan ini. Tiga kalimat yang menjadi semangat dan landasan bagi orang yang terlibat dalam dunia pendidikan.

  • Ing ngarso sung tuladha artinya di depan menjadi teladan
  • Ing ngarso mangun karsa artinya di tengah memberi semangat
  • Tut wuri handayani artinya dari belakang memberi dorongan

Melalui buah pikirnya yang cerdas dan kritis, ia banyak sekali memberikan andil yang besar dalam pendidikan di Indonesia. Terutama dalam meletakkan dasar pendidikan nasional yang memiliki ciri kebangsaan dan kebudayaan.

Beberapa tulisan atau quotes yang dapat dijadikan inspirasi bagi generasi Indonesia masa kini di antaranya:

  • Pengajaran dan pendidikan di dalam RI harus berdasarkan kemasyarakatan dan kebudayaan bangsa Indonesia, menuju ke arah keselamatan hidup lahir juga kebahagiaan batin;
  • Lawan Sastra Ngesti Mulya, artinya dengan ilmu kita menuju kemuliaan;
  • Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu;
  • Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa; serta
  • Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia.

Jasa-jasanya dapat menjadi semangat dalam mewujudkan Indonesia semakin besar, bermartabat dan berperadaban tinggi serta setara dengan bangsa lain. Dan, itu berlaku hingga kini, pada masa era globalisasi modern.


Semoga Biografi Ki Hajar Dewantara ini dapat menjadi pembuka wawasan dan juga inspirasi tak hanya dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like