13+ Contoh Autobiografi Diri Sendiri, Terlengkap!! (Singkat-Panjang)

Contoh Autobiografi Diri Sendiri

Contoh Autobiografi – Autobiografi adalah salah satu jenis tulisan yang banyak diminati, khususnya jika menyangkut tokoh-tokoh inspiratif. Tulisan ini membahas mengenai pengertian, ciri-ciri, tujuan, dan contoh autobiografi, baik autobiografi tokoh maupun diri sendiri.

Pengertian Autobiografi

pengertian autobiografi
sumber : wikihow.com

Autobiografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu autos (sendiri), bios (hidup), dan graphein (menulis). Jadi, autobiografi adalah tulisan tentang riwayat hidup seseorang yang dibuat oleh orang itu sendiri atau bersama penulis lain dengan mencantumkan keterangan “sebagaimana diceritakan oleh (nama subjek)”.

Dalam menuliskan biografinya, penulis bisa saja hanya mengandalkan ingatan atau catatan pribadi tentang berbagai peristiwa hidupnya, bisa juga menggunakan berbagai sudut pandang dan dokumen yang berkaitan dengan pengalamannya.

Meski hampir sama, autobiografi berbeda dengan memoar. Memoar ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan sang tokoh terhadap salah satu peristiwa penting yang dialaminya dan tokoh yang berhubungan dengannya.

Sementara itu, aubiografi menuliskan lika-liku hidup seseorang, masa-masa sulit, kegagalan, kesedihan, dan kebahagiaan secara lengkap dari lahir hingga kondisi saat tulisan itu dibuat. Jadi, dalam penulisannya, sudut pandang (point of view/POV) yang digunakan adalah POV 1 (aku, saya).

Ciri-Ciri Autobiografi

ciri ciri autobiografi
sumber blog.typoonline.com

Sebuah autobiografi dapat dikenali dari beberapa cirinya, yaitu

  • memuat informasi berdasarkan fakta yang ada pada tokoh tersebut;
  • berisi informasi tentang masa-masa sulit sang tokoh hingga mencapai keberhasilan sehingga sang tokoh patut dijadikan teladan;
  • sering kali hanya mengisahkan informasi yang bersifat positif;
  • ditulis agar masyarakat lebih mengenal pribadi si tokoh dan mengetahui hal-hal baik yang telah dilakukannya dalam hidup serta mengambil hikmah dari pengalaman tersebut;
  • ceritanya berbentuk teks narasi; serta
  • memiliki struktur yang jelas, yaitu terdiri dari latar belakang keluarga, pendidikan, prestasi, pekerjaan, dan hasil karya.

Perbedaan Penulisan Autobiografi dan Biografi

perbedaan auto bigrafi dan biografi
sumber : hespokestyle.com

Pada dasarnya, autobiografi adahlah bagian dari biografi, yaitu tulisan yang mengisahkan perjalanan hidup seseorang. Hanya saja, autobiografi ditulis oleh tokoh itu sendiri atau penulis lain yang mengatasnamakan dirinya, sedangkan biografi ditulis orang lain dengan sudut pandang orang ketiga.

Selain dari segi penulisnya, autobiografi dan biografi memiliki perbedaan sebagai berikut:

  • Autobiografi bisa ditulis siapa saja yang ingin menuliskan kisah kehidupannya dari lahir hingga saat sekarang, sedangkan biografi menceritakan tokoh terkenal yang memiliki banyak jasa, karya, atau pemikiran yang berguna untuk orang banyak.
  • Autobiografi hanya menampilkan informasi yang positif tentang sang tokoh, sedangkan biografi menggunakan sumber-sumber informasi berupa literatur, dokumen penting, dan narasumber lain sebagai saksi atas fakta-fakta yang terjadi berkaitan dengan peristiwa yang sedang diceritakan.
  • Autbiografi biasanya hanya bertujuan untuk mengenalkan sang tokoh dengan kisah hidup yang dapat diambil pelajarannya, sedangkan biografi disertai sejarah penting yang berkaitan dengan peristiwa yang dialami sang tokoh.

Tujuan Penulisan Autobiografi

tujuan penulisan auto biografi
sumber : sportku.com

Sebuah autobiografi ditulis dengan beberapa tujuan, yaitu

  • memperkenalkan diri sendiri kepada orang lain secara lebih detail;
  • memberikan gambaran, pelajaran, dan inspirasi kepada pembaca, khususnya berkaitan dengan perjuangan dalam meraih kesuksesaan saat ini; serta
  • sebagai bahan pencitraan seseorang.

Contoh Autobiografi Diri Sendiri

contoh autobiografi diri sendiri chairul tanjung
sumber : tirto.id

Banyak tokoh yang membuat buku autobiografi, baik ditulis sendiri maupun dibantu penulis lain berdasarkan penuturan langsung sang tokoh. Buku autobiografi berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat ditulis Sukarno sendiri dengan bantuan Cindy Adams, wartawan Amerika Serikat.

Chairul Tanjung menulis buku autobiografi berjudul Chairul Tanjung, Si Anak Singkong bersama Tjahja Gunawan Diredja. Sementara itu, K.H. Abdullah Gymnastiar menulis sendiri buku autobiografinya yang berjudul Apa Adanya.

Tak hanya tokoh, Anda pun bisa membuat autobiografi, apalagi jika memiliki pengalaman hidup yang berharga dan bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Berikut ini beberapa contoh tulisan autobiografi diri sendiri, pahlawan, pengusaha, dan tokoh Islam.

Contoh Autobiografi Diri Sendiri Singkat 1

contoh autobiografi diri sendiri
sumber : okeinfo.net

 

Namaku Zahra Dwiastuti, lahir di Bandung, 15 Juni 2003. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, buah pernikahan bapakku, Heri Kusuma dan ibuku, Dewi Yuliani. Aku terlahir dari keluarga sederhana, ayahku bekerja di lingkungan pemda, sedangkan ibuku berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah Islam.

Sejak kecil, Bapak dan Ibu selalu mengajariku untuk rajin beribadah, selalu bersikap jujur, dan senantiasa berbuat baik kepada sesama. Aku mulai bersekolah saat berusia 6 tahun di SDN Banjarsari dan melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Bandung dan kini duduk di kelas XI di SMAN 1 Bandung.

Setahun yang lalu, aku mengikuti perlombaan menulis yang diadakan sebuah penerbit bertema Bandung. Ketika itu, tulisanku yang berjudul “Merindukan Bandung Tempo Dulu” berhasil menjadi juara ketiga. Betapa gembiranya aku, hari itu menjadi hari tak terlupakan dalam hidupku.

Aku akan selalu mengingat momen ketika namaku disebut oleh juri sebagai salah satu pemenang. Betapa bangga rasanya bisa berdiri di atas panggung untuk menerima piala, piagam penghargaan, dan hadiah. Terlebih lagi, tulisan para pemenang akan diterbitkan menjadi buku.

Sejak itu, aku makin bersemangat menekuni hobi menulis. Aku juga rajin mengikuti berbagai perlombaan. Aku berharap, suatu saat nanti, aku bisa menjadi penulis terkenal, menghasilkan karya-karya yang selalu ditunggu pembaca dan menjadi inspirasi bagi orang banyak.

 

Contoh Autobiografi Diri Sendiri Singkat 2

contoh autobiografi singkat
sumber : cukurovagazetesi.com

 

Menjadi dokter adalah cita-citaku sejak kecil. Saat itu, dokter bagiku adalah orang paling baik di dunia karena suka menolong orang yang sakit. Alhamdulillah, aku bisa mewujudkan impianku meskipun harus melalui perjuangan yang tidak mudah.

Namaku Rizki Amalia, lahir pada tanggal 6 Desember 1989 di Tegal, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dengan profesi Bapak sebagai seorang guru dan Ibu yang menjadi ibu rumah tangga biasa, aku dan saudara-saudara kandungku hidup dalam kesederhanaan.

Saat aku duduk di kelas 2 SMA, Bapak pergi meninggalkan kami. Sejak itu, Ibu harus berjuang sendiri membiayai hidup anak-anaknya. Ibu yang selama ini lebih banyak di rumah harus sering terjun mengurusi beberapa petak sawah peninggalan orang tuanya dan berjualan apa saja.

Selepas SMA, aku mulai bimbang dengan cita-citaku karena masalah biaya. Namun, Ibu yang membaca keraguanku mendorong untuk tetap mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah, aku diterima di Fakultas Kedokteran Unpad.

Dua tahun berlalu, dua orang adikku menyusul ke Bandung, satu orang kuliah dan satu lagi masih SMA. Saat itulah, keraguan kembali menghampiriku. Setiap Ibu datang menjenguk, aku bisa melihat keletihan di wajahnya, meski beliau tidak pernah memperlihatkan kesedihan.

Kukatakan kepada Ibu bahwa mungkin sebaiknya aku berhenti kuliah, biarlah adik-adikku saja yang bisa bersekolah tinggi. Namun, ibu dengan tegas berkata, aku harus menyelesaikan studiku. “Soal biaya, itu urusan Ibu,” begitu ujarnya.

Akhirnya, aku pun mengikuti sarannya, tetap melanjutkan kuliah. Aku hidup sehemat mungkin dengan uang kiriman Ibu yang serba terbatas. Aku pun belajar dengan keras agar bisa cepat lulus. Alhamdulillah, setelah belajar enam tahun, aku bisa mengucapkan sumpah dokter.

Kini, sudah bertahun-tahun aku menjalani profesi sebagai dokter. Kebahagiaanku begitu berlimpah karena berhasil mewujudkan impian masa kecil, membuat ibuku tersenyum bangga, dan yang lebih penting, bisa mengabdikan diriku untuk sesama.

 

Contoh Autobiografi Diri Sendiri Singkat 3

contoh autobiografi diri sendiri singkat
sumber : kompas.com

 

Saya terlahir dengan nama lengkap Mohammad Syukri dan biasa dipanggil Uki. Saya lahir di Semarang, 25 Januari 2002 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Bapak saya bernama Agus Wismoyo dan ibu saya bernama Nur Aini.

Bapak saya adalah seorang pengrajin batik dan punya perusahaan yang cukup terkenal di Semarang. Dalam menjalankan bisnisnya, Bapak dibantu Ibu yang menangani masalah keuangan dan kakak saya, Mbak Melati, sebagai penanggung jawab pemasaran.

Bapak dan ibu saya adalah orang yang sangat peduli pada pendidikan putra-putrinya, terutama dalam hal agama. Oleh karena itu, kami bertiga sejak kecil disekolahkan di sekolah yang berbasis agama. Saya menempuh pendidikan di SD, SMP, dan SMA Islam Al Ghazali.

Saat ini, saya duduk di kelas XII. Meski saya tahu harus lebih serius belajar untuk menghadapi ujian nasional, hobi bermain basket tetap saya tekuni. Selain menjadi anggota tim basket di sekolah, saya juga bergabung dalam sebuah klub basket, bahkan menjadi pelatih di klub junior.

Hobi basket ini sudah saya tekuni sejak SMP sehingga di antara teman-teman yang lain, kemahiran saya dalam olahraga ini termasuk yang terbaik. Berawal dari kekaguman pada permainan para pebasket internasional, saya pun menekuni olahraga ini dengan serius.

Kata orang, menjalankan sesuatu yang kita senangi akan memberikan hasil yang terbaik dan itulah yang saya alami. Dari basket, banyak prestasi yang saya dapatkan. Saya pun senang bisa membuat orang tua bangga karena saya dan tim sekolah maupun klub di luar sekolah sering menjuarai turnamen.

Prestasi yang Pernah Dicapai

  • Ketua Bidang Olah Raga OSIS SMA Islam Al Ghazali
  • Pelatih Klub Basket Junior Elang Muda Semarang
  • Juara 1 Turnamen Basket Antara Klub se-Kota Semarang
  • Juara 1 Turnamen Basket Tingkat SMA se-Kota Semarang

 

Contoh Autobiografi Diri Sendiri Singkat 4

contoh autobiografi diri
sumber : nunikutami.com

 

Ardianti, itulah nama yang diberikan orang tua saya. Saya lahir tanggal 14 Maret 1998 di Palembang sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Ayah saya bernama Rusdianto, seorang PNS, dan ibu saya bernama Eva Mustika, pemilik usaha konveksi.

Riwayat pendidikan saya diawali dengan bersekolah di TK Mutiara Kota Palembang pada tahun 2003. Dua tahun kemudian, saya masuk SD Negeri 2 Palembang dan lulus pada tahun 2011. Selanjutnya, SMP Negeri 1 Palembang dan SMA Negeri 3 Palembang menjadi tempat saya menimba ilmu.

Dalam hal akademik, prestasi saya cukup bagus. Saya juga aktif di berbagai organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, seperti paskibra dan kesenian. Saya memilih kedua ekstrakurikuler tersebut karena saya sangat menyukai budaya dan sejarah.

Saat lulus SMA, saya pun mantap untuk kuliah di jurusan sejarah. Alhamdulillah, saya diterima di Departeman Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sebelum menjatuhkan pilihan, saya mencari informasi tentang universitas yang memiliki program studi sejarah yang bagus.

Dari sekian banyak informasi yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa UGM adalah yang terbaik. Kota Yogyakarta memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, punya banyak situs dan museum sejarah maupun budaya, dan banyak tokoh yang pernah belajar ilmu sejarah di sini.

Dengan restu orang tua, pada tahun 2016, saya terbang dari Kota Pempek ke Kota Gudeg untuk mengejar impian. Saat ini, sudah tiga tahun saya belajar di sini dan sangat menikmatinya. Setelah lulus nanti, saya ingin berkeliling dunia mempelajari budaya dan sejarah dunia langsung dari tempat aslinya.

 

Contoh Autobiografi Pahlawan

sumber ; antarafoto.com

 

Aku dilahirkan saat matahari terbit, 6 Juni 1901, sehingga ibuku memberi julukan “putra sang fajar”. Ia percaya kelahiranku menandakan terbitnya fajar di abad yang baru, setelah berlalunya abad kesembilan belas yang penuh kegelapan.

Keluargaku terdiri dari empat orang: bapakku, Raden Soekemi Sosrodiharjo, ibuku, Ida Ayu Nyoman Rai, kakakku Soekarmini, dan aku sendiri. Aku dibesarkan di Mojokerto dan bersekolah di Eerste Inlandse School, tempat Bapak menjadi mantri guru, dan kemudian pindah ke Europeesche Lagere School (ELS).

Lulus dari ELS, aku masuk Hogere Burger School (HBS) di Surabaya dan tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Pada bulan Juni tahun 1921, aku pergi ke Bandung dan melanjutkan kuliah di Sekolah Teknik Tinggi (Technische Hoogescmehool/THS).

Aku baru berusia 20 tahun saat suatu ilham politik yang kuat menerangi benakku. Di selatan Bandung, aku bertemu petani muda miskin bernama Marhaen. Nama itu lalu kupakai untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang sepertinya.

Pada tahun 1922, aku mengalami kesulitan yang pertama. Dalam sebuah rapat besar di Kota Bandung, di tengah pidatoku yang berapi-api, kata “Indonesia” melompat dari mulutku. Rapat itu dihentikan oleh polisi Belanda dan profesor universitas memintaku berhenti berpidato selama masih dalam studi.

Janjiku sudah terpenuhi, pendidikanku sudah selesai, tidak ada lagi yang akan menghalangiku berjuang untuk rakyat. Tanggal 4 Juli 1927 adalah waktu yang tepat bagiku untuk mendirikan partaiku sendiri, Partai Nasional Indonesia.

Pada periode tahun 1929 hingga 1942, aku keluar-masuk bui dan diasingkan. Berawal dari Penjara Banceuy, aku lalu dipindahkan ke Penjara Sukamiskin. Setelah itu, aku dibuang ke Ende dan kemudian diasingkan ke Bengkulu.

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, aku dilarikan ke Padang dan akhirnya kembali ke Jakarta. Setelah hampir 13 tahun, masa tahanan dan pembuangan berlalu. Aku bersyukur bisa pulang ke tempatku semula dan menjadi pemimpin rakyatku lagi.

Di tengah rasa sakit, pada tanggal 17 Agustus 1945, kulaksanakan hal yang sudah kurencanakan di Saigon: proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saat itu bulan Ramadan, 17 adalah tanggal diturunkannya Alquran, jumlah rakaat salat dalam sehari, dan bertepatan dengan Jumat, hari baik dalam Islam.

Aku tidak mau kemerdekaan yang kuperjuangkan sepanjang hidupku diberikan sebagai hadiah kepadaku seperti sedekah kepada pengemis. Kemerdekaan haruslah merupakan buah dari usaha kita sendiri. Apa saja yang melanda, kami akan selalu ingat slogan revolusi: “Sekali merdeka tetap merdeka!”

Bila sudah waktunya untuk pergi, aku hanya ingin menutup mata dengan tenang di tempat tidur, di antara pangkuan Tuhan. Aku ingin beristirahat di tanah airku tercinta dan kesederhanaan dari mana aku dilahirkan. Kuburkanlah aku menurut agama Islam dan di atas batu kecil yang biasa, tulislah:

“Di sini, beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.”

 

 Contoh Autobiografi Pengusaha

contoh autobiografi pengusaha
sumber : okezone.com

 

Kota Jakarta menjadi tempat kelahiran saya pada tanggal 16 Juni 1962. Ayah saya, Abdul Ghafar Tanjung, adalah seorang jurnalis dari sebuah surat kabar kecil, sedangkan ibu saya, Halimah, adalah seorang perempuan biasa.

Memasuki periode Orde Baru, perusahaan tempat ayah saya bekerja ditutup, ekonomi keluarga saya pun terpuruk. Namun, saya bersyukur karena masih bisa mendapatkan pendidikan dengan baik. Setamat SMA, saya kuliah di Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 1987.

Saat kuliah inilah, saya mencoba berbisnis kecil-kecilan dengan berjualan buku, kaos, dan lainnya. Saya kemudian membuka toko peralatan kedokteran dan laboratorium, tetapi bangkrut. Saya juga pernah berbisnis ekspor sepatu anak-anak bersama teman-teman, tetapi kemudian saya memisahkan diri.

Saya lalu mendirikan Para Group dengan perusahaan “payung” Para Inti Holdindo yang berfokus pada tiga sektor: keuangan (Para Global Investindo), multimedia dan investasi (Para Inti Investindo), dan properti (Para Inti Propertindo).

Dalam perjalanannya, saya mengakuisisi Bank Karman yang saya ubah menjadi Bank Mega dan membeli 40% saham Carrefour Indonesia. Nama Para Group saya ubah menjadi CT Corp dengan tiga anak perusahaan: Mega Corp, CT Global Resources, dan Trans Corp.

Saya mendirikan Trans TV dengan modal pinjaman dari bank sebesar Rp100 miliar, kemudian karena perkiraan saya meleset, saya kembali meminjam Rp300 miliar. Pada awal Trans TV beroperasi, saya merugi rata-rata Rp30 miliar/bulan. Alhamdulillah, pada tahun 2008, Trans TV mencapai puncaknya.

Saya yakin, tidak ada kesuksesan yang bisa dicapai dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, keuletan, kegigihan, dan kedisiplinan yang dibarengi sikap pantang menyerah dan tidak cepat putus asa.

 

Contoh Autobiografi Tokoh Islam

contoh autobiografi diri
sumber : daaruttauhid.com

 

Yan Gymnastiar, itulah nama lengkap saya ketika dilahirkan dari rahim ibu saya, Hj. Yeti Rohayati, pada hari Senin, 29 Januari 1962. Nama itu diberikan karena ayah saya, Letkol H. Engkus Kuswara, sangat menggemari olahraga senam (gymnastic).

Saya adalah anak tertua dari empat bersaudara. Meskipun lahir bukan di lingkungan pesantren, keluarga sangat religius dan disiplin. Saya juga berekolah di sekolah umum, bukan yang berbasis keagamaan. Selain aktif berorganisasi, saya juga tertarik pada dunia dakwah dan bisnis.

Saya sering berjualan es, pulpen, buku, dan minyak wangi, juga membuat stiker-stiker bersablon yang menunjukkan kekuatan dan keindahan Islam. Saya juga suka mengamen untuk melatih keberanian berhadapan dengan orang lain. Dari hasil usaha itu, saya bisa membeli satu unit angkutan kota.

Saya mengenal Islam secara serius melalui adik saya yang berkebutuhan khusus. Dia adalah guru saya. Saya juga pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpi saya, saya ikut salat berjamaah bersama Rasulullah saw. dan keempat sahabat.

Tanggal 12 Rabiul Awal 1987 saya menikahi Teh Ninih, putri seorang kiai dari Cijulang, Tasikmalaya. Kehadiran istri merupakan kunci yang amat penting dalam karier dakwah saya, bagian dari skenario pertolongan Allah dalam mengemban amanah dakwah.

Pada tahun 1990, saya tergerak mendirikan Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT) melalui perjuangan yang tidak mudah. Berawal dari hanya mengontrak pada tahun 1990, jamaah pengajian di Jl. Geger Kalong ini hanya beberapa puluh orang.

Saya lalu memperkenalkan konsep Manajemen Qalbu (MQ) untuk memotivasi jamaah dalam memperbaiki akhlak melalui pembersihan dan penyucian hati. Alhamdulillah, konsep MQ dengan jargon “jagalah hati” ini diterima masyarakat.

Saya bersyukur, Daarut Tauhid ikut berperan meningkatkan ketauhidan jamaah dan ekonomi masyarakat sekitar pesantren. Namun, meskipun Pesantren DT dan bisnis MQ berkembang pesat, saya ingin menjalani hidup dengan mengikuti ritme kehidupan yang diberikan Allah, dengan apa adanya.

 


Demikianlah beberapa hal penting tentang autobiografi yang perlu diketahui. Semoga penjelasan dan beberapa contoh autobiografi di atas bisa mempermudah Anda yang sedang berniat menuliskan perjalanan dan kisah hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *