10+ Contoh Wawancara Singkat Dengan Narasumber Pedagang

Contoh Wawancara Pedagang

Wawancara adalah aktivitas yang bisa dilakukan siapa saja dari beragam profesi dengan bermacam-macam tujuan. Tapi, tidak semua orang bisa sukses melakukan wawancara. Tulisan ini mencoba membantu Anda untuk mengetahui hal-hal pokok dalam wawancara beserta contohnya.

Pengertian Wawancara

pengertian wawancara
sumber : lokerbali.info

Wawancara adalah percakapan atau kegiatan tanya-jawab di antara dua orang atau lebih dengan pewawancara sebagai penanya dan narasumber sebagai orang yang ditanya. Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi, meminta keterangan, atau mengetahui pendapat tentang suatu hal.

Selain pengertian tersebut, berikut ini beberapa definisi wawancara menurut para ahli yang penting untuk disimak agar Anda lebih memahami tentang wawancara.

  1. Lexy J. Moloeng : wawancara adalah suatu percakapan dengan tujuan-tujuan tertentu.
  2. Charles Stewart dan W.B. Cash: wawancara adalah proses interaksi yang memiliki sebuah tujuan serius, yaitu untuk bertukar perilaku dan melibatkan aktivitas tanya-jawab.
  3. Denzig: wawancara adalah suatu kegiatan yang dipandu dan rekaman pembicaraan atau suatu percakapan di mana seseorang mendapatkan informasi dari orang lain.
  4. Robert Kahn dan Channel: wawancara adalah sebuah pola khusus dari suatu interaksi yang dimulai secara lisan dengan tujuan tertentu dan difokuskan pada konten yang spesifik.
  5. Koentjaraningrat: wawancara adalah suatu cara yang digunakan untuk tugas tertentu, mencoba mendapatkan informasi secara lisan, dan pembentukan responden untuk berkomunikasi secara tatap muka.
  6. Sugiyono: wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data, baik dilakukan secara terstruktur maupun tidak, dan dapat dilakukan melalui tatap muka maupun menggunakan komunikasi jarak jauh.
  7. Arikunto: wawancara adalah dialog yang dilakukan pewawancara untuk mendapatkan informasi dari narasumber.

Jenis-Jenis Wawancara

jenis jenis wawancara
sumber: sayaajarkan.com

Berdasarkan cara pelaksanaannya, wawancara dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu wawancara terbuka, tertutup, individual, kelompok, konferensi, terpimpin, dan bebas. Penjelasan mengenai jenis-jenis wawancara tersebut dapat Anda simak di bawah ini.

1. Wawancara Terbuka

Wawancara terbuka adalah wawancara yang dilakukan dengan tidak merahasiakan informasi mengenai narasumber dan pertanyaannya tidak terbatas atau tidak terikat. Contoh jenis wawancara terbuka adalah saat wartawan meminta seorang pejabat memberikan penjelasan lengkap tentang suatu hal.

2. Wawancara Tertutup

Berkebalikan dengan wawancara terbuka, pada wawancara tertutup, pewawancara harus merahasiakan nama, identitas, atau informasi lain tentang narasumbernya dengan cara menuliskan inisial atau memalsukan namanya pada saat menuliskan hasil wawancaranya.

Contoh wawancara tertutup adalah tanya-jawab yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Pada wawancara ini, pertanyaan yang diberikan bersifat terbatas dan biasanya sudah disediakan jawabannya berupa pilihan-pilihan.

3. Wawancara Individual

l atau wawancara perorangan adalah wawancara yang dilakukan oleh satu orang pewawancara dengan satu orang narasumber. Contoh wawancara individual adalah seperti yang dilakukan oleh wartawan dalam mencari berita.

4. Wawancara Kelompok

Sesuai namanya, wawancara kelompok adalah wawancara yang dilakukan oleh sejumlah pewawancara kepada narasumber dalam waktu yang sama. Pertanyaan yang diajukan oleh setiap penanya berbeda-beda. Contohnya adalah wawancara sekelompok wartawan dengan seorang artis atau pejabat.

5. Wawancara Konferensi

Wawancara konferensi adalah wawancara yang dilakukan oleh seorang pewawancara dengan sejumlah narasumber atau sebaliknya. Contoh wawancara ini adalah tanya-jawab yang dilakukan pada acara bincang-bincang (talkshow) di televisi atau di acara formal, seperti diskusi publik.

6. Wawancara Terpimpin

Wawancara terpimpin disebut juga wawancara terstruktur karena menggunakan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, baik oleh si pewawancara maupun narasumber. Contohnya adalah wawancara bertema khusus dengan narasumber berprofesi tertentu, seperti dokter, guru, atau polisi.

7. Wawancara Bebas

Wawancara bebas atau wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang pertanyaan-pertanyaannya tidak dipersiapkan terlebih dahulu atau terjadi secara spontan. Pertanyaan yang diberikan sangat tergantung pada suasana dan kondisi ketika wawancara berlangsung.

Langkah Sebelum Melakukan Wawancara

peralatan wawancara
sumber : traveloka.com

Seperti telah disebutkan, wawancara bertujuan untuk menggali informasi yang akurat dan lengkap dari narasumber mengenai suatu hal. Agar tujuan tersebut bisa dicapai, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan sebelum melakukan wawancara.

1. Tentukan Tujuan dan Hasil yang Diinginkan

Sebelum melakukan wawancara, Anda harus menentukan tujuan, alasan, dan hasil yang diharapkan dari proses wawancara yang akan dilakukan. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan data yang akhirnya hanya akan dibuang percuma.

Langkah persiapan ini sangat penting, terutama bagi para pemula. Menentukan dan memahami tujuan wawancara diperlukan agar wawancara bisa berjalan dengan terstruktur dan sistematis, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga tepat sasaran sehingga Anda mendapatkan hasil yang diharapkan.

2. Susun dan Kuasai Pertanyaan

Berdasarkan tujuan yang ditetapkan dan hasil yang ingin diharapkan, Anda dapat menyusun pertanyaan-pertanyaan secara terstruktur dan sistematis. Jika sudah menguasai, pada wawancara-wawancara berikutnya, pertanyaan akan mengalir begitu saja sehingga proses wawancara berjalan lebih efektif.

Buatlah pertanyaan terbuka yang akan membantu Anda menggali jawaban lebih dalam. Pertanyaan terbuka memungkinkan Anda menemukan kunci-kunci jawaban persoalan atau jawaban atas pertanyaan lain sehingga tidak perlu ditanyakan lagi.

Contoh pertanyaan terbuka adalah “Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terhadap kebijakan kenaikan tarif listrik?” Pertanyaan tersebut jauh lebih baik dibandingkan “Apakah Bapak/Ibu setuju dengan kebijakan kenaikan tarif listrik?”

Dalam menyiapkan daftar pertanyaan, jangan lupa untuk memasukkan unsur 5W+1H, yaitu

  • what (apa),
  • who (siapa),
  • where (di mana),
  • when (kapan),
  • why (mengapa), dan
  • how (bagaimana)

3. Sepakati Waktu dan Tempat Wawancara

Langkah selanjutnya adalah menyepakati waktu dan tempat wawancara dengan narasumber. Jika yang akan diwawancarai adalah seorang pejabat penting atau public figure, hubungi narasumber tersebut jauh-jauh hari agar mereka bisa menentukan waktu dan tempat yang tepat.

Pada saat melakukan kesepakatan, perkenalkan diri dengan sopan, sampaikan maksud dan durasi wawancara. Tanyakan pula prosedur wawancara kepada narasumber, misalnya apakah harus melalui birokrasi tertentu seperti surat-menyurat resmi atau cukup membuat janji secara personal.

4. Siapkan Keperluan Teknis Wawancara

Persiapkan dengan matang barang-barang atau perlengkapan yang akan digunakan saat melakukan wawancara, misalnya alat perekam, mikrofon, atau kamera. Jangan sampai peralatan tersebut tidak dapat digunakan saat wawancara sedang berlangsung.

5. Lengkapi Diri dengan Tanda Pengenal dan Surat Tugas

Saat menuju tempat wawancara, jangan lupa membawa surat tugas dan identitas diri. Surat tugas biasanya berisi profil lembaga tempat Anda bekerja, profil diri Anda sebagai pewawancara, maksud dan tujuan wawancara, dan ucapan terima kasih atau kesediaan narasumber diwawancarai.

Contoh Wawancara

Setelah mengetahui poin-poin penting dalam sebuah wawancara, berikut akan disajikan beberapa contoh wawancara yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun pertanyaan. Contoh berikut meliputi wawancara dengan pedagang, siswa, dan pengunjung tempat wisata.

Contoh Wawancara dengan Pedagang Pertama

Teks wawancara adalah teks yang menggambarkan kegiatan percakapan reportasi yang dilakukan pewawancara dengan narasumber. Di bawah ini adalah contoh teks hasil wawancara dengan pedagang.

 

Pewawancara    : Selamat siang, Pak. Permisi, boleh saya minta waktu sebentar?

Pedagang            : Selamat siang. Ada apa, ya?

Pewawancara    : Begini, Pak, saya dari Harian Malang Pos. Saya ingin mengetahui kegiatan dan kondisi perekonomian para kegiatan pedagang kecil dan menengah, Pak. Apakah saya boleh mewawancarai Bapak?

Pedagang            : Oh, boleh, Mas, silakan. Kebetulan saya sedang istirahat siang. Mas sudah makan?

Pewawancara    : Sudah, Pak, terima kasih. Kalau boleh, saya langsung saja mulai wawancaranya supaya tidak terlalu lama mengganggu waktu istirahat Bapak.

Pedagang            : Oh, iya, baik.

Pewawancara    : Pertama, kalau boleh, saya perlu identitas Bapak. Nama Bapak siapa dan berapa usia Bapak?

Pedagang            : Nama saya Hardianto, usia 42 tahun.

Pewawancara    : Baik, Pak. Sudah berapa lama Bapak berdagang di kawasan Pasar Sukun, Malang, ini?

Pedagang            : Saya sudah berjualan di sini sejak tahun 2007, berarti sudah sekitar 12 tahun, sejak pasar ini masih berbentuk pasar yang lama, belum direnovasi menjadi seperti sekarang.

Pewawancara    : Sebelum menjadi pedagang, apakah Bapak pernah memiliki profesi lain?

Pedagang            : Tidak, Mas. Saya sejak lulus SMA memang sudah menjadi pedagang. Sebelum berjualan di sini, saya pernah berjualan keliling, lalu pernah juga membuka kios di Pasar Dinoyo, tetapi tidak lama.

Pewawancara    : Wah, berarti sudah cukup lama juga Bapak menjadi pedagang, ya. Apa yang membuat Bapak tetap menekuni profesi sebagai pedagang?

Pedagang            : Saya memang sudah hobi berdagang sejak kecil karena dulu orang tua saya juga pedagang. Waktu sekolah pun saya sempat berjualan kecil-kecilan dengan sasaran teman-teman di sekolah. Selain memang senang berjualan, saya merasa sudah memiliki bekal yang cukup dari orang tua mengenai seluk-beluk profesi pedagang.

Pewawancara    : Namun, apakah Bapak pernah mencoba mencari pekerjaan lain dengan ijazah SMA? Menjadi karyawan, misalnya?

Pedagang            : Pernah, sih, waktu baru lulus SMA. Ya, seperti kebanyakan teman-teman lain, saya juga pernah mencoba melamar pekerjaan ke sana-sini, tetapi ternyata susah, Mas. Akhirnya, ya sudah, saya memutuskan untuk meneruskan profesi orang tua saya, berdagang. Yang penting, saya juga senang menjalaninya.

Pewawancara    : Jadi, Bapak memilih profesi sebagai pedagang karena memang senang melakoninya, ya? Tidak ada alasan lain?

Pedagang            : Hmm … alasan utamanya, sih, itu, Mas. Kan lebih enak kalau kita bekerja sesuai hobi. Namun, sebetulnya saya punya alasan lain juga.

Pewawancara    : Kalau boleh tahu, apa itu, Pak?

Pedagang            : Begini, Mas, saya kan muslim. Nah, sebagai seorang muslim, saya ingin mengikuti jejak Rasulullah yang dahulu juga berprofesi sebagai pedagang, bahkan beliau adalah seorang pengusaha sukses. Ya … siapa tahu, suatu saat, saya juga bisa sukses seperti Nabi. Iya, enggak, Mas? He he he ….

Pewawancara    : Amin. Hebat juga alasan dan cita-cita Bapak. Selain itu, apa lagi, Pak, alasan Bapak memilih profesi sebagai pedagang?

Pedagang            : Satu hal yang penting juga, buat saya, berdagang tidak hanya sebatas pekerjaan yang tujuannya hanya untuk mencari uang, tetapi lebih dari itu.

Pewawancara    : Maksudnya bagaimana, Pak?

Pedagang            : Toko saya ini kan toko sembako yang isinya berbagai macam barang kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh banyak orang. Alhamdulillah, toko saya termasuk laris dan cukup dikenal di sekitar sini. Pelanggan saya juga lumayan banyak yang setia membeli di toko saya.

Pewawancara    : Wah, alhamdulillah, ya, Pak. Lalu?

Pedagang            : Nah, semua itu kan otomatis membuat toko saya selalu sibuk dengan bermacam-macam aktivitas, dari pagi sampai sore, bahkan kadang sampai malam atau pagi lagi. Dengan kesibukan seperti itu, mungkin tidak saya menjalankan toko ini sendirian?

Pewawancara    : Pasti tidak, Pak. Bapak tentu membutuhkan karyawan.

Pedagang            : Betul sekali, Mas, saya butuh bantuan karyawan untuk melayani pembeli, mengatur stok barang, dan sebagainya. Maka, seperti yang bisa Mas lihat sendiri, saya mempekerjakan beberapa orang karyawan. Artinya, secara tidak langsung, saya juga punya andil dalam mengurangi angka pengangguran. Bahkan, lebih jauh lagi, dengan membuka lapangan kerja di toko, saya juga sedikit-sedikit punya peran dalam mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Bukan begitu, Mas?

Pewawancara    : Wah, betul juga penjelasan Bapak. Akan tetapi, bukankah penghasilan seorang pedagang tidak menentu, Pak?

Pedagang            : Iya, sih, Mas, menjadi pedagang tentu berbeda dengan pegawai yang penghasilannya tetap setiap bulan. Pedagang itu tergantung rezeki. Kalalu sedang ramai, penghasilannya bisa berkali-kali lipat lebih besar dibanding gaji orang kantoran, lo. Namun, kalau sedang sepi, ya … harus bersabar, insyaallah nanti akan ramai lagi.

Pewawancara    : Apa yang membuat Bapak selalu optimis?

Pedagang            : Sikap optimis itu wajib bagi seorang pedagang, Mas. Kalau tidak bisa bersikap optimis, ya, lebih baik mencari pekerjaan lain saja.

Pewawancara    : Betul, Pak, saya sepakat. Kembali ke soal alasan menjadi pedagang, apa ada yang lain lagi, Pak?

Pedagang            : Hmm … apa, ya? Oh iya, dengan berdagang, saya punya keleluasaan mengatur waktu, hal yang sulit saya dapatkan kalau saya menjadi buruh atau pekerja kantoran yang jam kerjanya tetap. Hal ini juga dirasakan oleh kebanyakan pengusaha, pekerja paruh waktu, dan profesi lain selain pegawai kantoran.

Pewawancara    : Kenapa bisa begitu, Pak?

Pedagang            : Profesi sebagai pekerja, kan, harus tahan terhadap tekanan dari atasan, siap dengan jadwal bekerja yang ketat, dan bersedia terikat dengan semua peraturan yang ditetapkan perusahaan atau kantor tempatnya bekerja. Sudah begitu, terkadang gaji yang diterima tidak layak, tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, jam kerjanya melebihi batas kewajaran, dan banyak masalah lainnya. Dengan kata lain, karyawan tidak memiliki kebebasan seperti pedagang, pengusaha, atau wirausahawan.

Pewawancara    : Tapi, Pak, bukankah setiap pekerjaan punya risiko sendiri?

Pedagang            : Oh, iya, betul sekali. Menjadi pedagang juga banyak risikonya, contohnya ya itu tadi, penghasilan yang tidak pasti. Hanya saja, saya merasa, saya tidak sanggup untuk menanggung risiko menjadi seorang pegawai seperti yang saya sebutkan tadi. Karena itu, saya lebih memilih menjadi pedagang. Jadi, ini hanya masalah pilihan pribadi saja. Orang lain yang memilih menjadi pegawai mungkin berpikir sebaliknya.

Pewawancara    : Baik, Pak, ini pertanyaan terakhir dari saya. Sampai kapan bapak akan menggeluti profesi sebagai pedagang?

Pedagang            : Kalau soal itu, saya juga belum tahu, tetapi kalau keinginan saya, sih, insyaallah saya akan berdagang sampai akhir hayat. Berdagang bagi saya bukan hanya upaya saya untuk mencari uang, tetapi juga menjadi sarana ibadah, belajar, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.

Pewawancara    : Wah, luar biasa, semoga usaha Bapak semakin sukses. Baiklah, Pak, terima kasih banyak atas waktu dan wawancaranya. Saya mohon pamit.

Pedagang            : Amin, terima kasih doanya, Mas, semoga Mas juga selalu sukses dengan pekerjaannya.

 

Contoh Pertanyaan Wawancara dengan Pedagang Kedua

Bagi Anda yang akan melakukan wawancara dengan pedagang, berikut ini contoh daftar pertanyaan yang bisa diajukan untuk mendapatkan informasi yang cukup lengkap tentang profil dan aktivitas ekonomi narasumber.

  1. Siapa nama Bapak/Ibu?
  2. Berapa usia Bapak/Ibu?
  3. Di mana Bapak/Ibu tinggal?
  4. Berapa jumlah anggota keluarga Bapak/Ibu?
  5. Sudah berapa lama Bapak/Ibu bekerja sebagai pedagang?
  6. Mengapa Bapak/Ibu memilih bekerja sebagai pedagang?
  7. Di mana Bapak/Ibu biasanya berjualan?
  8. Pukul berapa Bapak/Ibu mulai berdagang dan pukul berapa selesai?
  9. Barang apa saja yang dijual?
  10. Berapa modal yang dikeluarkan?
  11. Berapa kira-kira keuntungan yang didapatkan setiap hari?
  12. Apakah hasil tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?
  13. Adakah yang membantu Bapak/Ibu berdagang dan siapa?
  14. Bagaimana cara Bapak/Ibu menarik calon pembeli?
  15. Apa yang Bapak/Ibu lakukan supaya pelanggan merasa puas dengan produk yang dijual?
  16. Bagaimana Bapak/Ibu menghadapi kenaikan harga barang dagangan sewaktu-waktu?
  17. Apa saja suka dan duka selama menjadi pedagang?
  18. Apa harapan Bapak/Ibu untuk masa depan?

Contoh Pertanyaan Wawancara dengan Siswa

Berikut ini adalah contoh daftar pertanyaan yang bisa diajukan saat melakukan wawancara dengan siswa berprestasi.

  1. Siapa nama kamu dan kelas berapa sekarang?
  2. Bagaimana perasaan kamu terpilih sebagai siswa berprestasi tahun ini?
  3. Apakah kamu punya tips khusus agar bisa menjadi siswa berprestasi?
  4. Jam berapa kamu belajar setiap hari?
  5. Bagaimana suasana yang menurutmu paling nyaman sehingga bisa mendukung aktivitas belajarmu?
  6. Buku apa saja yang kamu pakai untuk belajar?
  7. Apakah kamu memiliki hobi dan aktivitas lain di sekolah atau di rumah selain belajar?
  8. Bagaimana cara kamu membagi waktu agar selain belajar dan mengejar prestasi, kamu juga masih bisa menjalankan hobimu dan tetap memiliki waktu untuk berkumpul dan beraktivitas bersama teman-teman?
  9. Apa yang kamu lakukan untuk mempertahankan prestasimu?
  10. Apakah kamu pernah mendapatkan nilai yang kurang memuaskan? Jika pernah, apa yang kamu lakukan ketika itu terjadi?
  11. Apakah kamu pernah merasa bosan saat belajar? Bagaimana cara mengatasinya?
  12. Bagaimana cara kamu untuk terus bersemangat dalam belajar?
  13. Bagaimana cara kamu menghadapi rivalmu dalam meraih gelar ini?
  14. Apa saran kamu untuk teman-teman yang juga ingin bisa berprestasi sepertimu?

Contoh Pertanyaan Wawancara dengan Pengunjung Wisata

Wawancara dengan pengunjung wisata bisa dilakukan siapa saja, baik para pemburu berita, seperti wartawan surat kabar, atau para blogger untuk melengkapi tulisannya tentang sebuah tempat wisata. Berikut ini contoh pertanyaan-pertanyaan yang biasa diajukan kepada wisatawan.

  1. Siapa nama Anda?
  2. Dari mana asal Anda, apakah dari daerah sekitar sini atau dari luar kota?
  3. Dari mana Anda mengetahui tentang tempat wisata ini?
  4. Dengan siapa Anda datang ke tempat wisata ini, sendiri, bersama keluarga, teman, atau rombongan?
  5. Apa saja aktivitas yang Anda lakukan di tempat wisata ini?
  6. Apakah sebelumnya sudah pernah berkunjung ke sini? Sudah berapa kali?
  7. Apa yang menarik dari tempat wisata ini menurut Anda?
  8. Wahana atau aktivitas apa yang paling Anda sukai di sini?
  9. Bagaimana pendapat Anda tentang pengelolaan tempat wisata ini?
  10. Apakah fasilitas yang disediakan sudah cukup memadai atau ada yang perlu dilengkapi?
  11. Apa kekurangan tempat wisata ini yang perlu segera dibenahi?
  12. Apa harapan Anda untuk tempat wisata ini di masa mendatang?

Demikianlah beberapa hal penting terkait dengan wawancara beserta contoh-contoh hasil dan pertanyaan yang bisa diajukan untuk wawancara. Dengan panduan ini, semoga Anda bisa melakukan wawancara dengan lebih sistematis dan lengkap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *